Madura disaster early warning system
Proyek ini bernama MDEWS (Madura Disaster Early Warning System) aplikasi web berbasis PHP MVC custom (bukan framework seperti Laravel/CodeIgniter) dengan database MySQL, ditujukan untuk empat kabupaten di Pulau Madura: Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.
Latar Belakang & Tujuan
Latar Belakang
Pulau Madura, yang secara administratif terbagi menjadi empat kabupaten — Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep merupakan wilayah pesisir dan agraris yang menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi berulang sepanjang tahun, mulai dari banjir di musim hujan hingga kekeringan panjang di musim kemarau, ditambah risiko gelombang tinggi dan abrasi di sepanjang garis pantainya. Pada musim kemarau, kekeringan menjadi ancaman paling meluas. Data BPBD mencatat kekeringan melanda 62 desa di 10 kecamatan Kabupaten Sampang, sementara di Pamekasan wilayah terdampak meluas menjadi 321 dusun di 77 desa yang tersebar di 11 kecamatan meningkat dari hanya 10 kecamatan pada periode 2019–2022. Kondisi serupa terjadi di Sumenep, di mana delapan kecamatan wilayah kepulauan serta lima dari sepuluh kecamatan daratan mengalami kekeringan kategori langka hingga kritis, dan di Bangkalan, sekitar 50 desa di 7 kecamatan terdampak sehingga BPBD setempat harus rutin mengirim truk tangki air ke wilayah pegunungan. Kajian risiko bencana nasional bahkan memproyeksikan tingkat kekeringan di Pulau Jawa, Madura, Bali, dan Nusa Tenggara berpotensi naik hingga 20% dari kondisi saat ini, sementara curah hujan ekstrem pada musim hujan bisa meningkat hingga 40% memperbesar risiko dua bencana yang berlawanan ini secara bersamaan. Sebaliknya di musim hujan, keempat kabupaten ini rutin menghadapi banjir luapan sungai. Pada Januari 2025, banjir di Kecamatan Blega, Bangkalan, berdampak pada 1.715 kepala keluarga di tiga desa dan merendam permukiman, tempat ibadah, hingga pondok pesantren. Tak lama berselang, luapan Sungai Kalikamuning merendam empat desa dan lima kelurahan di Kota Sampang dengan ketinggian air 20 sentimeter hingga 2 meter, memaksa BPBD mengevakuasi warga menggunakan perahu karet. Wilayah pesisirnya juga rawan: BPBD Sampang pernah mengeluarkan status siaga banjir rob yang mengancam aktivitas pelabuhan, petani garam, dan nelayan di pesisir Sampang serta Bangkalan selatan, sementara BMKG pernah merilis peringatan gelombang tinggi 1,25–2,5 meter di perairan Sumenep yang membuat nelayan setempat disarankan tidak melaut, dan BPBD Bangkalan harus memetakan kecamatan-kecamatan rawan angin kencang, tanah longsor, dan banjir secara terpisah menyusul peringatan cuaca ekstrem. Kerentanan pesisir utara Madura ini bahkan menjadi perhatian tingkat provinsi, dengan Gubernur Jawa Timur menyebut wilayah pantai utara Madura mulai Bangkalan hingga Sumenep sebagai kawasan berkerentanan tinggi yang perlu mendapat intervensi infrastruktur seperti tanggul laut. Kondisi ini menunjukkan bahwa keempat kabupaten Madura menghadapi ragam bencana yang datang silih berganti, sementara penanganannya masih berjalan sendiri-sendiri oleh BPBD di masing-masing wilayah administratif. Pelaporan kejadian dari masyarakat pun umumnya masih mengandalkan cara konvensional (informasi lisan, grup percakapan tidak resmi, atau datang langsung ke kantor BPBD), sehingga rawan terlambat terverifikasi dan sulit dipetakan lokasinya secara presisi. Belum ada satu platform digital bersama yang menyatukan laporan warga, status kebencanaan real-time, titik evakuasi, dan jalur notifikasi lintas kabupaten dalam satu sistem. Kesenjangan inilah yang melatarbelakangi pengembangan proyek MDEWS.
Tujuan Proyek
1. Menyediakan kanal pelaporan bencana berbasis masyarakat yang cepat dan mudah, dilengkapi foto dan titik koordinat GPS, agar BPBD memperoleh data kejadian di lapangan secara akurat tanpa menunggu laporan manual. 2. Menghadirkan visualisasi status kebencanaan secara real-time dalam bentuk peta interaktif per kabupaten/kecamatan, menggunakan empat tingkat status yang sudah familiar bagi masyarakat (Aman–Waspada–Siaga–Awas). 3. Membangun alur kerja verifikasi dan tindak lanjut yang terstruktur bagi petugas BPBD, sehingga setiap laporan warga memiliki status jelas dan penanganannya tercatat. 4. Memberi masyarakat akses mudah ke informasi titik evakuasi/shelter terdekat lokasi, kapasitas, dan kontak penanggung jawab saat kondisi darurat. 5. Mengintegrasikan data cuaca dan kebencanaan dari sumber resmi seperti BMKG, agar peringatan dini dapat dihasilkan lebih otomatis, tidak hanya bergantung pada laporan manual. 6. Menyediakan sistem notifikasi multi-kanal (in-app, WhatsApp, SMS) agar peringatan tetap menjangkau warga di wilayah dengan akses internet terbatas. 7. Menyatukan berbagai kanal pelaporan darurat (WhatsApp, Telegram, email, call center, SMS) dalam satu pusat informasi, memberi masyarakat pilihan sesuai kondisi masing-masing. 8. Menjembatani koordinasi lintas empat kabupaten Madura dalam satu platform yang sama, menggantikan pola penanganan kebencanaan yang selama ini berjalan terpisah per daerah.
Solusi yang Dibangun
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, dibangun MDEWS (Madura Disaster Early Warning System) platform web yang dirancang khusus untuk empat kabupaten Pulau Madura, dengan arsitektur PHP MVC custom, database MySQL (skema relasional yang memetakan wilayah secara hierarkis: kabupaten → kecamatan → desa), dan antarmuka peta interaktif berbasis Leaflet. Sistem ini dibangun di atas empat pilar: a. Pelaporan Masyarakat (Crowdsourced Reporting) Warga melaporkan kejadian bencana lewat formulir online dengan foto, titik GPS, jenis bencana, dan tingkat keparahan, baik sebagai pengguna terdaftar maupun tamu. Sebagai pelengkap, tersedia kartu informasi kanal alternatif (WhatsApp, Telegram, email, call center, SMS) bagi warga di wilayah dengan akses internet terbatas. b. Peta & Visualisasi Risiko Dashboard publik dan halaman Peta Evakuasi menampilkan status kebencanaan per kabupaten/kecamatan dengan kode warna standar (Aman–Waspada–Siaga–Awas), lengkap dengan lokasi shelter, kapasitas tampung, dan rekomendasi arah evakuasi di tiap titik. c. Verifikasi & Manajemen Respons (Panel Admin BPBD) Petugas memiliki dashboard khusus untuk meninjau, memverifikasi, dan mencatat penanganan laporan warga secara real-time, dengan kontrol akses berbasis empat peran (superadmin, admin BPBD, petugas, masyarakat). d. Notifikasi & Komunitas Multi-Kanal Konsep distribusi peringatan lewat in-app, WhatsApp, dan SMS, ditambah ruang komunitas berupa grup relawan regional per kabupaten. Bagian ini menjadi arah pengembangan lanjutan setelah modul inti (pelaporan–verifikasi–peta) berjalan stabil. Pemilihan skema warna dan terminologi status (Aman/Waspada/Siaga/Awas) sengaja diselaraskan dengan standar yang sudah dikenal masyarakat dan instansi BPBD/BNPB di Indonesia, agar sistem terasa familiar dan mudah diadopsi baik oleh warga maupun petugas lapangan. Dengan pondasi ini, MDEWS berupaya menjadi satu titik temu antara laporan warga, verifikasi resmi BPBD, dan informasi evakuasi menggantikan pola koordinasi yang sebelumnya berjalan terpisah di keempat kabupaten Madura.
Video Demo
Tim Proyek 4 anggota

MOH. GILANK ALAMSYAH
Penanggung Jawab Fitur
2024520052

AGUS SALIM
Frontend Developer
2024520060

ABDUL HALIM
Project Manager
2024520059

ALVIN HIDAYAT PUTRA
UI/UX Designer
2024520050
Sprint 0 sprint
Belum ada sprint.